Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PERTEMUAN 3 : TATA KRAMA, SANTUN DAN MALU

 


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....

Apakabar mu hari ini anak-anak? Semoga dalam keadaan sehat semua. 

Jangan lupa pesan ibu, selalu utamakan 3 M, yaitu Memakai masker saat keluar rumah, Mencuci tangan dengan sabun dan Menjaga jarak saat bertemu dengan orang lain 👌

Anak-anakku.... pada pertemuan yang lalu kita sudah membahas tentang Iman Kepada Qada' dan Qadar. Pastikan kalian sudah paham betul yaa tentang materi tersebut yaa. 

Nah, anak-anakku....umat Islam hendaknya memiliki akhlak yang terpuji dalam hidupnya, karena Islam telah mengajarkan tentang akhlak-akhlak terpuji yang diperintahkan oleh Allah swt. untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa akhlak terpuji yang harus dimiliki atau diterapkan oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari adalah Tata Krama, Santun dan Malu. Bagaimana cara menerapkan tata krama yang baik, sikap santun yang benar dan sikap malu yang tepat dalam kehidupan sehari-hari? Yuk kita bahas bersama...

1. TATA KRAMA

Tata krama terdiri dari kata "tata" dan "krama". Tata berarti aturan, adat, norma, atau peraturan. Krama berarti sopan santun, perilaku santun, tingkah laku yang santun, bahasa yang santun. Jadi, tata krama artinya aturan tingkah laku berdasarkan nilai-nilai kesopanan yang islami. Tata krama dalam kehidupan sehari-hari disebut juga etika. Etika adalah aturan perilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antarsesama. Pergaulan hidup di masyarakat harus berdasarkan etika dan tata krama yang berlaku. Karena tata krama atau norma atau etika dalam pergaulan jika diterapkan dengan benar, maka akan terjalin hubungan yang baik dan harmonis di dalam lingkungan pergaulan. 

Ibnu Sarh berkata: dari Rasulullah saw. bersabda: " Siapa yang tidak menyayangi orang kecil di antara kami dan tidak mengerti hak orang yang lebih besar di antara kami, maka ia bukan dari golongan kami." (H.R. Abu Dawud).

Contoh Tata Krama dalam Kehidupan dapat dilihat dalam berbagai aktivitas seperti berbuat baik kepada Ibu Bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.

a. Tata Krama Berpakaian

Aurat merupakan bagian tubuh yang harus tertutup sehingga terjaga dari pandangan orang lain. Aurat laki-laki dewasa adalah antara pusar dan lutut. Aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Dengan demikian, jika bagian tubuh yang merupakan aurat tersebut tertutup oleh pakaian, akan terjaga dari pandangan ornag-orang di sekitar serta terjaga dari gangguan yang tidak diinginkan karena dipicu oleh pandangan. 

Allah swt. menjelaskan bahwa pakaian berfungsi sebagai penutup aurat dan untuk memperindah jasmani manusia. Sebagaimana firman Allah swt. dalam Q.S. Al A'raf ayat 26.

Artinya: "Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat."

Ayat tersebut memberi acuan cara berpakaian sebagaimana dituntut oleh sifat takwa, yaitu untuk menutup aurat dan berpakaian rapi, sehingga tampak simpati dan berwibawa serta naggun dipandangnya, bukan menggiurkan dibuatnya. 
Pakaian yang kita kenakan harus bersih dan sesuai dengan tuntutan Islam serta di sesuaikan dengan situasi dan kondisi. Pada saat menghadiri pesta, kita menggunakan pakaian yang cocok untuk berpesta, misalnya kemeja, baju batik. Pada saat tidur, kita cukup menggunakan piyama, dan begitu seterusnya. Disamping itu, pemilihan model dan warna pakaian juga harus disesuaikan dengan badan kita, sehingga menjadi serasi dan tidak menjadi bahan tertawaan orang lain.

b. Tata Krama Berhias

Berhias artinya berdandan atau merapikan diri baik fisiknya maupun pakaiannya. Berhias dalam pandangan Islam adalah suatu kebaikan dan sunah untuk dilakukan, sepanjang untuk beribadah atau kebaikan. Menghias diri agar tampil menarik dan tidak mengganggu kenyamanan orang lain yang memandangnya, merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim, terutama bagi kaum wanita di hadapan suaminya dan kaum pria dihadapan istrinya. 
Islam membolehkan umatnya berhias dengan cara apapun, sepanjang tidak melanggar kaidah-kaidah agama atau melanggar kodarat kewanitaan dan kelaki-lakian, serta tidak berlebihan dalam melakukannya. Wanita tidak boleh berhias dengan cara laki-laki, begitu pula dengan sebaliknya laki-laki tidak boleh berhias seperti layaknya perempuan. Sebab yang demikian itu dilarang dalam ajaran Islam.

c. Tata Krama Bertamu

Dalam ajaran Islam ada dua konsep yang harus ditegakkan, yaitu Hablumminallah dan Hablumminannas. Hablumminallah artinya melakukan hubungan dengan Allah, sedangkan Hablumminannas artinya melakukan hubungan antarsesama manusia. Bertamu adalah berkunjung ke rumah orang lain dalam rangka mempererat silaturahim. Maksudnya orang lain di sini adalah tetangga, saudara (sanak family), teman sekantor, teman seprofesi, dan sebagainya. Bertamu tentu ada maksud dan tujuannya, antara lain menjenguk yang sedang sakit, berbicara biasa, membicarakan tentang pelajaran, dan sebagainya. Orang yang suka bersilaturahim akan dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, sebagaimana hadis Rasulullah saw., dari riwayat Abu Hurairah:
"Sabda Rasulullah saw.: Barangsiapa yang menginginkan diperluas rezekinya dan diperpanjang umurnya maka sebaiknya ia bersilaturahim."

Silaturahim tidak hanya menghubungkan tali persaudaraan, tetapi juga akan banyak menambah wawasan, pengalaman karena pada saat berinteraksi terdapat pembicaraan-pembicaraan yang berkaitan dengan masalah-masalah perdagangan atau penghasilan, sehingga satu sama lain akan mendapatkan pandangan baru tentang usaha pendapatan rezeki dan sebagainya.
Suasana yang dialami bagi orang yang biasa bersilaturahim, hidup menjadi lebih menyenangkan, nyaman, dan hati menjadi tentram sehingga hidup merasa luas seakan umut bertambah, walaupun kenyataan yang sebenarnya umur dan ajal manusia sudah ditentukan jauh sebelum ia dilahirkan oleh Allah swt..

d. Tata Krama Menerima Tamu

Menerima tamu iadalah menerima seseorang yang berkunjung ke rumah kita, baik yang berasal dari jauh maupun yang tinggal di dekat rumah kita, yang disebut tetangga atau kerabat. Sebagai tuan rumah atau orang yang kedatangan tamu, kita harus menerima mereka dengan baik sesuai tata cara dalam ajaran Islam. Tamu adalah raja yang harus dihormati dan dihargai sesuai dengan kemampuan batas-batas penghormatan tertentu.
Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa menghormati tamu. Menghormati tidak berarti menjamu dengan makaknan dan minuman yang lezat dan mewah, melainkan yang terpenting menunjukkan sikap hormat dan sopan kepada tamu, selama mereka berada di rumah kita.

Dari Ka'ab bin Malik, Rasulullah saw. bersabda: "Hormatilah tamu-tamu yang berkunjung ke rumahmu, karena sesungguhnya dalam penghormatan terhadap mereka terdapat rahmat." (H.R. Ahmad)

2. SOPAN SANTUN

Sopan adalah sikap hormat. Sedangkan santun adalah berkata lemah lembut serta bertingkah laku halus dan baik. Kesopanan seseorang akan terlihat dari ucapan dan tingkah lakunya. Ucapannya lemah lembut, tingkah lakunya halus serta menjaga perasaan orang lain. Dari sini dapat disimpulkan bahwa santun mencangkup dua hal, yaitu santun dalam ucapan dan santun dalam perbuatan. 

"Dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada al-Asyad al-Ashri, sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sikap yang dicintai oleh Allah swt yaitu sifat santun dan malu." (H.R. Ibnu Majah)

Allah swt. pun menegaskan tentang perintah memiliki sikap sopan santun, salah satunya Allah swt. berfirman dalam Q.S. Al Baqarah ayat 83.
Artinya: "Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling."

Ayat tersebut menjelaskan tentang perintah memiliki dan menerapkan sikap sopan dan santun dengan berkata yang baik kepada sesama manusia. 

Sopan santun menjadi sangat penting dalam pergaulan sehari-hari. Kita akan dihargai dan dihormati orang lain jika menunjukkan sikap sopan dan santun. Orang lain merasa nyaman dengan kehadiran kita. Sebaliknya, jika berperilaku tidak sopan, maka orang lain tidak akan menghargai dan mneghormati kita. Orang yang memiliki sopan santun berarti mampu menempatkan dirinya dengan tepat dalam berbagai keadaan, dimana saja dan kapan saja, karena sopan santun merupakan perwujudan cara kita dalam bersikap yang terbaik.

3. RASA MALU

Malu adalah menahan diri dari perbuatan jelek, kotor, tercela dan hina. Sifat malu itu terkadang merupakan sifat bawaan dan juga bisa merupakan hasil latihan. Namun demikian, untuk menumbuhkan rasa malu perlu usaha, niat, ilmu serta pembiasaan. Rasa malu merupakan bagian dari iman karena dapat mendorong seseorang untuk melakukan kebaikan dan mencegahnya dari kemaksiatan.

"Dari Abu Hurairah, Dari Nabi saw., beliau bersabda: Iman adalah pokoknya, cabangnya ada tujuh puluh lebih, dan malu temasuk cabangnya iman." (H.R. Muslim) 

Hadis di atas menegaskan bahwa malu merupakan salah satu cabang iman. Seseorang malu untuk mencuri bila ia beriman, malu berdusta bila ia beriman. Seorang wanita malu membuka atau menunjukkan auratnya jika ia beriman. Jika sifat malu berkutang dan mulai luntur maka pertahanan diri dalam menghadapi godaan nafsu mulai menipis. Malu merupakan salah satu benteng pertahanan seseorang dalam menghindari perbuatan maksiat. Malu juga merupakan faktor pendorong bagi seseorang untuk melakukan kebaikan.

Wahai generasi muda Islam yang cerdas, ketahuilah bahwa rasa malu bukan berarti tidak percaya diri, minder atau merasa rendah diri. Misalnya, seseorang malu berjilbab karena takut diejek teman-temannya atau malu karena mendapat giliran maju presentasi di depan kelas. Terhadap hal-hal yang baik dan positif kalian tidak boleh malu. Malu seperti itu tidaklah tepat. Rasa malu haruslah dilandasi karena Allah swt. bukan karena selainNya. Jika malu bukan berlandaskan karena Allah swt. maka bisa jadi hal itu adalah sifat malas, minder, atau rendah diri yang merupakan sifat-sifat tercela yang harus dihindari.

Dari manakah sebenarnya sumber rasa malu? Malu berasal dari keimanan dan pengakuan akan keagungan Allah swt.. Rasa malu akan muncul jika kita berimann dan menghayati betul bahwa Allah swt. Maha Melihat, Maha Mengetahui, Maha Mendengar. Tidak ada yang bisa kita sembunyikan dari Allah swt.. Semua aktivitas badan, pikiran dan hati kita diketahui oleh Allah swt..

Nah, anak-anakku itulah sedikit penjelasan tentang materi Tata Krama, Santun dan Malu. Agar kalian bisa lebih paham lagi silahkan buka Buku Pendamping PAI halaman 11-21 dan Buku Paket PAI yang kalian miliki. Di situ sudah dijelaskan secara lebih rinci tentang Tata Krama, Santun dan Malu.

Sebelum mengakhiri pembelajaran PAI pada pertemuan hari ini, seperti biasa untuk evaluasi silahkan kerjakan soal-soal yang ada di buku Pendamping PAI kalian halaman 22-24 (a dan b). Kemudian salinlah jawaban kalian dengan klik link di bawah ini !
Jika jawaban b (essay) tidak bisa dikirim lewat link, silahkan untuk buka Google Classroom > Tugas > PAI > PAI JAWABAN SOAL BUKU PENDAMPING HALAMAN 23-24 ESSAY  > Serahkan/Menyerahkan.


Jika kalian ada pertanyaan silahkan tanyakan di WA Group kelas masing-masing atau hubungi dengan chat WA Pribadi Guru PAI masing-masing. Bertanyalah jika memang kalian belum paham. Jangan sia-siakan hak kalian untuk mendapatkan ilmu dari bapak/ibu gurumu. 👌

Selamat belajar dan mengerjakan evaluasi!
Tetap semangat belajar !

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Posting Komentar untuk "PERTEMUAN 3 : TATA KRAMA, SANTUN DAN MALU"