Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

BAHASA INDONESIA KELAS 9: PIDATO PERSUASIF

 Hai...hai...hai...Apa kabar kalian hari ini? Apakah kalian sudah menonton siaran di Satelit TV hari ini? Asyik kan bisa belajar dengan berbagai media, melalui buku, gawai, radio, dan hari ini kalian belajar melalui televisi. Jangan bosan-bosan untuk mendorong diri untuk tetap semangat belajar ya...

Pidato persuasif adalah pidato yang digunakan untuk meyakinkan audiensi atau pendengar agar percaya hingga mau melakukan sesuatu dalam suatu topik tertentu. Persuasi adalah bagian dari eksposisi. Eksposisi digunakan untuk meyakinkan pendengar atau pembaca dengan menyajikan argumen dari satu sudut pandang yang dibuktikan kebenarannya.

Terdapat beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk memersuasi seseorang atau audiensi selain menggugah emosinya. Berikut adalah beberapa pendekatan untuk memersuasi audiensi.

1. Etika, gunakan pendekatan etika yang berarti menyentuh audiensi lewat nilai-nilai moral dan kebenaran yang harus ditegakkan.

2. Emosi, sentuh perasaan audiensi dengan cara membakar semangatnya atau justru membuat pendengar merasa terharu akan suatu kenyataan.

3. Logika, berarti memanfaatkan logika untuk memberikan efek setuju karena argumen masuk akal dan dapat dibuktikan secara ilmiah (Kemdikbud, 2017, hlm.37).


Jenis Eksposisi

Berikut adalah jenis-jenis eksposisi yang dapat digunakan dalam pidato persuasif.

1. Eksposisi yang dapat mengubah sikap orang atau mengubah pandangan orang tentang suatu hal.

2. Eksposisi yang dimanfaatkan untuk mempromosikan atau menjual produk, jasa hingga suatu kegiatan atau aktivitas (konser amal, pentas seni, dsb).

3. Eksposisi yang digunakan untuk membela suatu kasus tertentu.


Tujuan Pidato Persuasif

Pidato persuasif bertujuan untuk meyakinkan pendengar atau audiensi untuk melakukan sesuatu. Contoh nyatanya adalah bagaimana pidato Greta di atas menginginkan audiensinya agar mengubah pandangan, sikap dan tindakan para pemimpin agar lebih memperhatikan kembali mengenai isu pemanasan global. Pidato persuasif adalah cara yang efektif untuk mengubah dan menggugah audiensi.


Unsur Pidato Persuasif

Untuk mencapai tujuan pidato persuasif, dibutuhkan keutuhan unsur-unsur yang membentuk pidato itu sendiri. Berikut adalah unsur-unsur yang harus diperhatikan agar menciptakan pidato persuasif yang baik. Tentunya, unsur-unsur ini juga dapat dikaji jika kita ingin menyimpulkan dan mengidentifikasi pidato persuasif (reverse engineering).

1. Pembukaan

Misalnya, apakah pidato yang kita buat memiliki pembukaan kuat yang dapat menarik perhatian pendengar? Terdapat lima aspek yang harus diperhatikan dari pembukaan:

a. Merebut perhatian. Merebut perhatian audiensi tetap harus dilakukan agar pesan yang kita sampaikan benar-benar didengar dengan seksama.

b. Hubungan dengan audiensi. Berarti menggunakan sesuatu (kisah) yang membuat audiensi terkait dan merasakan apa yang dimaksud oleh pembawa pidato (relatable).

c. Kelayakan. Tunjukkan bahwa kita sebagai pembicara pidato layak berbicara mengenai topik yang dibawakan. Beri tahu pengalaman atau kemampuan yang kita miliki dengan cara yang santun dan data nyata tanpa menjadi sombong.

d. Tujuan. Jelaskan apa yang kita harapkan setelah pidato selesai dibawakan atau dibacakan.

e. Peta jalan. Berarti memberitahukan apa sajak pokok pikiran yang akan dibawakan dalam pidato.

2. Isi

Pastikan setiap isi terpilah sebagai pokok pikiran yang selalu disertai alasan logis, meyakinkan dan didukung oleh data yang memadai dan valid. Susun secara logis, gunakan sumber tepercaya, contoh nyata yang membuat audiensi terkait dengan kehidupan sehari-harinya (relatable).

3. Penutup

Penutup sebaiknya dibuat dengan menarik dan mampu meninggalkan kesan, sehingga isi pidato akan diingat dengan lebih baik oleh audiensi (Kemdikbud, 2017, hlm.38).

Struktur Isi Pidato Persuasif

Karena pidato persuasif termasuk ke dalam teks eksposisi. Maka dari itu, teks ini umumnya dimulai dengan pendahuluan yang memberikan pernyataan posisi yang memberikan pendapat atau sudut pandang pengarang. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing strukturnya.

1. Pernyataan posisi

Merupakan pendapat atau pendirian yang digunakan penulis untuk mengulas suatu persoalan. Misalnya, apa posisi pelaku pidato terhadap suatu persoalan? apakah menjadi korban, ahli, atau hanya seseorang yang peduli terhadap persoalan itu? Untuk membuat pernyataan posisi yang kuat, kita dapat mempertanyakan beberapa poin di bawah ini.

Siapa yang akan diyakinkan?

Apa yang akan diyakinkan? (mengubah pandangan? sikap? perilaku?)

Jenis argumen apa yang akan menarik perhatian mereka? (etika akan jauh lebih berpengaruh pada kaum tertentu di masyarakat, sementara untuk kalangan akademik harus lebih logis dan realistis).

Apakah pernyataan sudah menyatakan posisi dengan jelas?


2. Tahap Argumen

Argumen yang dibuat harus diterangkan secara logis dan dibuktikan dengan alasan, contoh, bukti pakar, dan data atau informasi statistik yang kuat.


3. Penguatan Pernyataan Posisi

Berarti Pada bagian ini, letak argumen ditonjolkan. Simpulan posisi berdasarkan argumen yang telah disajikan memperkuat posisi. Tahapannya mencakup:

a. Memperkuat pernyataan posisi dan menekankan pikiran utama dengan penggunaan suara, nada tinggi-rendah, mimik, bahasa tubuh, dan gestur yang sesuai dengan argumen.

b. Argumen dikembangkan secara logis dan didukung oleh bukti-bukti, tidak hanya berdasarkan emosi dan intuisi.

c. Tabel, gambar, diagram atau foto bukti dari data sumber dapat digunakan untuk menghasilkan pernyataan yang lebih kuat (Kemdikbud, 2017, hlm.45).


Ciri-Ciri Kebahasaan Pidato Persuasif (Teks Eksposisi)

Lagi-lagi, karena teks pidato persuasif adalah bagian dari teks eksposisi, maka ciri kebahasaan juga berdasarkan ciri kebahasaan teks eksposisi. Berikut adalah penjabaran ciri ciri kebahasaan pidato persuasif dalam (Kemdikbud, 2017, hlm.46).

1. Nominalisasi (Pembendaan)

Nominalisasi adalah proses tata bahasa yang mengubah kata benda, kerja, dan sifat menjadi kata benda. Proses ini berfungsi untuk menghubungkan makna antarkalimat. Contohnya: (a) Pemerintah akan memberlakukan Undang-Undang Antikekerasan. (b). Pemberlakuan tersebut melegakan banyak pihak di negeri ini. Kalimat (a) dan (b) saling berhubungan melalui kata memberlakukan-pemberlakuan.

2. Bentuk Pasif dan Kata Ganti Orang

Teks eksposisi umumnya ditulis tidak menggunakan bentuk orang pertama (aku), namun menggambarkan sebagai anggota masyarakat atau yang berwenang dalam suatu tatanan masyarakat (hamba masyarakat). Misalnya: “Ini harus dihentikan” agar terdengar formal dan tidak menjadi pihak yang angkuh dan dapat menghentikannya sendiri.Kata ganti orang juga dihilangkan, agar tidak menyudutkan salah satu orang atau instansi tertentu. Biasanya, kata ganti orang yang digunakan adalah: “dia, mereka, bangsa, warga negara”.

 3. Kosa Kata

a. Kosakata yang sering digunakan adalah istilah teknis, kemudian sinonim sering digunakan untuk menghindari pengulangan kata yang membuat kalimat terlalu kaku.

b. Rantai kata, berarti banyak menggunakan pasangan kata (sinonim dan antonim), serta rumpun kata yang berkaitan satu saa lain seperti tanah, regenarsi, dan sumber daya alam.

c. Kata benda abstrak, seperti kegembiraan, takut dan kata teknis seperti spesies dan genus.

d. Kata emotif digunakan untuk memancing perasaan audien seperti: menghancurkan, luar biasa, menyedihkan, dsb.

e. Kata tugas, sebagai pencipta kohesi seperti: sebagai tambahan, karena, sebab, sebagai hasil dari, di pihak lain, dsb.

f. Kata tugas, sebagai konjungsi bentuk seperti: seperti, sebab, oleh karena itu, maka, dsb.


Langkah Menulis Pidato Persuasif (Persiapan Menulis Pidato Persuasif)

Menulis pidato persuasif berarti melaksanakan persiapan yang matang sebelum menulisnya. Berikut adalah persiapan menulis pidato persuasif.

1. Pelajari Topik

Ketahui dan pelajari topik yang akan disampaikan. Lakukan kajian sebanyak mungkin hal-hal yang berkaitan dengan topik tersebut. Luangkan waktu untuk membaca buku mengenai topik yang akan disampaikan. Catat berbagai data dan sumber penting yang dapat digunakan untuk memperkuat argumen.

2. Pahami Tujuan

Pastikan tujuan yang ingin dicapai dapat dipahami dan sesuai dengan urgensi topik.

3. Pahami Audiensi

Pelajari siapa audiensi yang akan mendengarkan pidato, setiap audiensi memiliki kebutuhan tersendiri.

Nah, setelah kalian memelajari materi pidato persuasif ini, cobalah cari contoh pidato persuasif dengan sebuah tema tertentu. Lalu catatlah di buku kalian dan analisislah struktur teks pidato yang kalian temukan. Semangat belajar!!!😉

Posting Komentar untuk "BAHASA INDONESIA KELAS 9: PIDATO PERSUASIF"